Bau Apek-Berkutu, Pemdes Tolak Salurkan Beras Bansos Bulog Bima

BIMA-Sejumlah Pemerintah Desa (Pemdes) di Kecamatan Bolo Kabupaten Bima, NTB menolak menyalurkan beras Bantuan Sosial (Bansos) dari Bulog Bima. Mereka beralasan beras bantuan program ketahanan pangan dari pemerintah sudah bau apek, berkutu dan tak layak dikonsumsi.

Wakil Ketua BPD Desa Rasabou Kecamatan Bolo, Sudirman mengaku pihaknya menolak untuk menyalurkan ke masyarakat beras bantuan Bansos pangan dari Bulog Bima.

“Beras yang disalurkan Bulog Bima berbau apek. Warga berubah menjadi kemerahan dan berkutu. Sudah tidak layak dikonsumsi,” ucapnya.

Bacaan Lainnya

Sudirman bersama pihak terkait lain telah memeriksa dengan teliti seluruh beras bantuan tersebut. “Sekitar 70 persen dari 1.626 zak mengeluarkan bau busuk, banyak kutu dan warna berubah,” tuturnya.

Menurut dia, apabila beras Bansos tersebut dipaksakan dibagi kepada kepada masyarakat penerima kuatir akan menimbulkan penyakit. “Makanya kita simpulkan ditolak,” jelas Sudirman.

Ia meminta pihak Bulog Bima segera mengganti dengan beras yang lebih bagus dan layak dikonsumsi, supaya penerima manfaat dapat merasakan bantuan.

“Kami minta beras busuk segera diganti dengan beras yang layak dikonsumsi. Supaya penerima manfaat dapat merasakan bantuan atau program pemerintah,” pinta Sudirman.

Sementara Kepala Desa (Kades) Rasabou, Suaidin, SH. Ia mengatakan pihaknya menolak beras Bansos untuk disalurkan kepada masyarakat selaku penerima manfaat.

“Beras kami tolak karena tidak layak dikonsumsi. Sesuai koordinasi dengan pihak terkait, beras akan diangkut kembali,” ujarnya.

Senada dengan Kepala Desa Leu Kecamatan Bolo, M Taufik. Ia mengatakan pihaknya menolak beras Bansos dari Bulog Bima disalurkan kepada masyarakat.

“Setelah kami lihat kondisi beras yang didrop oleh Bulog Bima, kami simpulkan menolak untuk disalurkan ke masyarakat,” ujarnya via sambungan WhatsApp.

Seperti di desa-desa lain, beras Bansos di Desa Leu juga bau apek, berkutu dan tak layak dikonsumsi oleh masyarakat. “Pokoknya kami tolak dan minta diganti dengan beras lain yang lebih bagus untuk dikonsumsi,” tegasnya.

Ia mengaku, penolakan tersebut sudah disampaikan kepada pihak terkait. Sedangkan beras yang telanjur disalurkan ditarik kembali untuk diganti dengan yang lain. “Tak layak dikonsumsi,” pungkasnya. (man)

Pos terkait